Disebut sebagai ulama pujangga karena ia dikenal sebagai ulama yang sekaligus menjadi penulis kisah-kisah roman. Sehingga, ia juga dijuluki dengan sebutan Kiai Roman.
Kultur kala itu, apa yang dilakukan Hamka tersebut tidak layak dilakukan, yakni seorang ulama yang menyalahi tradisi keulamaan karena juga sekaligus menjadi pujangga yang gemar menulis roman.
Namun, penilaian ketidaklayakan tersebut kemudian akhirnya diakui dan sebutan Ulama Pujangga tidak menjadi masalah lagi bagi masyarakat umum.
Karya-karya roman yang telah dihasilkan oleh Hamka antara lain adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, serta Di Lembah Kehidupan.
Baca Juga: Tjokroaminoto dan Gambaran Eksploitasi Pribumi Sejak Kecil
Buya Hamka menjadi sosok yang begitu menginspirasi, memberi keteladanan bagi kaum muda untuk memanfaatkan waktu sebaik dan seproduktif mungkin untuk selalu menuntut ilmu juga memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan umat.
“Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.” -Buya Hamka
Artikel Terkait
Konflik Pemuda Dua Desa di Kayoa Utara Berakhir Damai, Begini Kata Kapolsek
Menjelang Nataru 2022, Pemda DIY Akan Tutup Sejumlah Fasilitas Wisata
Tolak Presidential Threshold, DPP KNPI Usul Begini
Meninggal Dunia, Media Sosial Laura Anna Banjir Komentar
Sah, Ingub Larangan Perayaan Nataru 2022 Resmi Ditandatangani