Ketika Cut Nyak Dhien Dikhianati Pengikutnya Sendiri

photo author
Lely Nurarifah, Malut Network
- Rabu, 15 Desember 2021 | 06:00 WIB
Cut Nyak Dhien, wanita tangguh dari tanah Aceh yang gigih melawan penjajah. (goodnewafromindonesia.id)
Cut Nyak Dhien, wanita tangguh dari tanah Aceh yang gigih melawan penjajah. (goodnewafromindonesia.id)

Malutnetwork - Kelahiran Cut Nyak Dhien ditandai dengan situasi wilayah yang sedang tidak baik-baik saja. Pasalnya, kala itu sedang terjadi perang saudara antara rakyat VI Mukim dan rakyat Meuraksa.

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Kesultanan Aceh pada hari Selasa, bulan Januari tahun 1848.

Lahir dari keluarga bangsawan, seperti Tjokroaminoto, Cut Nyak Dhien juga tidak pernah membeda-bedakan kasta dalam memilih teman.

Baca Juga: Tjokroaminoto dan Gambaran Eksploitasi Pribumi Sejak Kecil

Ayahnya, Nanta Muda Seutia merupakan keturunan langsung Sultan Aceh sekaligus tokoh yang menjadi cikal bakal dalam pembangunan wilayah VI Mukim sehingga menjadi terkenal dan makmur.

Sedangkan ibunya merupakan keturunan bangsawan yang terpandang dari Kampung Lampagar.

Sejak kecil, Cut Nyak Dhien telah dibekali ilmu agama yang baik oleh kedua orang tuanya, hal tersebut membuat dirinya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya dan peka yang luar biasa.

Baca Juga: Dari Pesantren Kita Bisa Berkarya dan Mandiri

Rasa peka tersebut kemudian tumbuh menjadi kesetiaan, yang ia representasikan ketika tanah Aceh yang sangat ia cintai kemudian dirampas oleh pihak asing. Bahkan tidak hanya merampas, lebih dari itu, pihak asing tersebut bahkan menghancurkan dan memporak-porandakan Aceh.

Situasi itu lalu memantik jiwa Cut Nyak Dhien untuk menjadi wanita tangguh dan teguh pediriannya. Sehingga, ‘perempuan berhati baja’ menjadi salah satu julukan kepada wanita kelahiran Aceh ini.

Tercatat dalam sejarah bahwasanya ia merupakan sosok wanita yang tidak gentar melawan penjajah meskipun berdiri di barisan paling depan.

Baca Juga: Tolak Presidential Threshold, DPP KNPI Usul Begini

Meskipun menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan, Cut Nyak Dhien tidak akan pernah dengan mudah menyerah pada lawan.

Namun, dalam kesulitannya hidup di hutan saat berperang, Panglima Laot, salah seorang pengikutnya menasihati agar Cut Nyak Dhien menyerah saja, karena ia sudah terlalu tua, sehingga perlawanannya pun hanya akan sia-sia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lely Nurarifah

Sumber: Buku "Cut Nyak Dhien: Ibu Perbu dari Tanah Rencong"

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Profil Singkat Zulkifli Umar

Selasa, 3 Januari 2023 | 06:00 WIB
X