Tjokroaminoto dan Gambaran Eksploitasi Pribumi Sejak Kecil

photo author
Lely Nurarifah, Malut Network
- Jumat, 10 Desember 2021 | 06:00 WIB
Tjokroaminoto sejak kecil telah menampilkan keberaniannya dalam menjadi pemimpin. (si.or.id)
Tjokroaminoto sejak kecil telah menampilkan keberaniannya dalam menjadi pemimpin. (si.or.id)

 

Malutnetwork Tjokroaminoto kecil dilahirkan di Desa Bakur, Madiun pada 16 Agustus 1882. Sejatinya, ia memiliki gelar Raden Mas karena takdir mengantarkan ia untuk lahir di kalangan bangsawan.

Ayah Tjokroaminoto, Raden Mas Tjokroamiseno, seorang wedana di Kleco, Madiun, dan Raden Mas Tjokronegoro, sang kakek yang merupakan Bupati Ponorogo.

Meski begitu, Tjokroaminoto justru tidak menikmati segala kenyamanannya hidup dengan fasillitas lengkap dan menduduki kelas bangsawan. Ia lebih memilih meninggalkan gelar Raden Mas-nya, dan melebur dengan kaum pribumi.

Baca Juga: Viral, Mahasiswa Mengumpulkan Tugas Kuliah dalam Kardus Tuai Perdebatan Warganet

Ia ingin bergaul dengan teman-temannya tanpa mengenal batasan. Biasanya, ada batasan pertemanan antara kaum bangsawan dan pribumi, sedangkan teman-teman Tjokroaminoto sebagian besar berasal dari kalangan pribumi. Namun secara otomatis, kedudukan Tjokroaminoto sebagai anak wedana tetap menjadi batasan dalam pergaulan.

Masa kanak-kanak seseorang tak bisa dilepaskan dari masa bermain dengan teman-temannya. Begitu pun Tjokroaminoto. Ia kerapkali bermain dengan teman-temannya.

Namun, ada yang menarik ketika kemudian ia menjadi penguasa atas permainan tersebut. Tjokroaminoto kecil selalu menjadi pemimpin dalam setiap permainan, sedangkan teman-temannya selalu berada di pihak yang dipimpin.

Baca Juga: Menanam Jagung Bersama Petani di Jeneponto, Jokowi Janji Hentikan Impor

Jiwa seorang pemimpin Tjokroaminoto sudah terbangun sejak kecil. Ia tumbuh menjadi anak yang pemberani. Berani melawan tradisi yang tumbuh subur di lingkungannya selama ini, lebih-lebih di Nusantara. Tradisi kelas-kelas dan sekat-sekat antara bangsawan dan pribumi ia leburkan tanpa batasan lagi.

Ia menjadi tokoh egaliter sejak masih kecil, terbukti pula bahwa ia enggan menggunakan gelar Raden Mas, agar sama derajat dan sama rasa dengan rakyat lainnya.

Berbeda dengan Tjokroaminoto, teman-temannya yang selalu menjadi pihak yang dipimpin, selalu menjadi pihak yang dieksploitasi, menggambarkan bagaimana situasi bangsa Indonesia kala itu. Bangsa yang terjajah dan menjadi budak bagi bangsa lain.

Baca Juga: Dari Pesantren Kita Bisa Berkarya dan Mandiri

Tjokroaminoto menunjukkan keberaniannya sebagai pemimpin ingin menyadarkan teman-temannya, betapa sengsara menjadi manusia yang hidupnya seperti binatang, berada dalam kurungan sang majikan.

Perjuangannya tersebut tergambarkan jelas dalam pidato dan tulisan-tulisan Tjokroaminoto. Salah satunya, pada 1914, ia menulis sebuah sajak di Doenia Bergerak, yakni:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lely Nurarifah

Sumber: Seri Buku Tempo: Tjokroaminoto, Buku H.O.S. Tjokroaminoto: Penyemai Pergerakan Kebangsaan..

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Profil Singkat Zulkifli Umar

Selasa, 3 Januari 2023 | 06:00 WIB
X