Hasil ini sejalan dengan perspektif resource-based theory untuk munculnya aliansi strategis. Selain itu, kurangnya kapabilitas teknologi muncul sebagai faktor kunci yang menyebabkan perusahaan memutuskan untuk masuk ke aliansi strategis.
Baca Juga: Jakarta E Prix Sukses Digelar Tanpa Dukungan BUMN, Anies Baswedan Beri Komentar Pedas
Terlepas dari alasan utama ini, evolusi teknologi yang cepat menuntut pengetahuan khusus dari sektor teknologi informasi yang memungkinkan pemilihan teknologi yang akurat.
Oleh karena itu, pemilihan teknologi yang tepat menjadi penentu untuk mencapai tujuan strategis perusahaan. Demikian juga, pengetahuan ahli ini sangat penting untuk mengikuti evolusi perkembangan teknologi baru yang mengarah pada inovasi dalam perusahaan tradisional.
Setelah keputusan untuk masuk ke aliansi strategis telah diadopsi, kami menemukan adanya hambatan internal terkait dengan resistensi budaya terhadap perubahan. Perlawanan ini dimanifestasikan oleh ketakutan akan implikasi organisasi dan internal yang mungkin dihasilkan aliansi untuk organisasi.
Hambatan awal ini diatasi melalui komitmen yang jelas oleh manajemen puncak terhadap keputusan untuk memasuki aliansi. Komitmen yang kuat ini mengirimkan pesan yang jelas ke seluruh organisasi dan menjamin bahwa, terlepas dari kesulitan awal, komitmen untuk mendukung aliansi akan dipertahankan.
Baca Juga: Viral! Mahasiswi Praktek Diduga Lecehkan Pasien, RSUD Wonosari Buka Suara
Ketika hambatan awal pembentukan aliansi telah diatasi, kita dapat membedakan beberapa faktor kunci yang menentukan keberhasilan atau kegagalan aliansi. Pada titik ini, saling pengetahuan dan kepercayaan muncul sebagai dua faktor utama untuk berfungsinya jenis kolaborasi antar-perusahaan ini.
Kedua faktor ini juga dianggap sebagai elemen kunci untuk pengembangan jaringan bisnis yang sukses. Demikian juga, hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kepercayaan membutuhkan waktu, interpretasi sinyal yang terus menerus dan benar serta kelancaran dalam komunikasi.
Digitalisasi mengarahkan perusahaan untuk memutuskan untuk terlibat dalam aliansi dengan mitra teknologi untuk mendapatkan akses ke kemampuan yang mereka butuhkan untuk bersaing di pasar saat ini.
Manajemen yang memadai dari seluruh proses sangat penting untuk mencapai manfaat yang diharapkan.
Baca Juga: Haru! Eril Belum Ditemukan, Atalia Pratatya Tulis Pesan Pamit Pulang ke Indonesia
Melalui studi kasus yang beralasan dapat disimpulkan pemberikan beberapa keluaran manajerial untuk meningkatkan tingkat keberhasilan aliansi strategis yang dipimpin oleh digitalisasi dalam konteks sektor tradisional.***
Artikel Terkait
Siswa Berprestasi dapat Mengikuti Jalur SNMPTN 2022. Segera Siapkan Dokumen ini
Ini Jadwal dan Persyaratan Jalur UTBK SBMPTN 2022
Kabar Gembira, Jogja akan Terapkan Pembelajaran Tatap Muka 100 Persen
4 Jurusan Kuliah ini Prospek dan Gajinya Fantastis di Indonesia
SMK Pertanian Modayama Kembali Juarai Lomba Pramuka di Halsel
Menarik Penikmat Kuliner Masa Kini, Begini Caranya
Mengenal Merdeka Belajar Ala Ki Hadjar Dewantara
Kurikum Menjadi Barometer Pendidikan Anak
Jelajahi Potensi Pariwisata Bangka Belitung Sebagai Tajuk Kesejahteraan Masyarakat
Begini Cara Hadapi Perubahan di Era Disrupsi