*Artikel ini untuk memenuhi tugas UAS
Malutnetwork.com - Perubahan adalah keniscayaan. Dalam konteks kehidupan sosial, perubahan ibarat dinamisasi warna pelangi yang membuatnya nampak indah.
John Lewis Gillin dan John Phillip Gillin (1954) menyebut perubahan sosial sebagai variasi cara hidup yang diterima, baik akibat perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, atau karena difusi dan penemuan di masyarakat.
Contoh perubahan yang paling nyata adalah munculnya kebiasaan-kebiasaan baru pada tatanan kehidupan sosial setelah Pandemi Covid-19.
Masyarakat dikondisikan untuk mentaati protokol kesehatan seperti mencuci tangan dan memakai masker. Pada tataran teknologi, masyarakat membatasi ruang-ruang interaksi fisik dan mengubahnya melalui media daring seperti Zoom atau Google Meet untuk bersosialisasi.
Baca Juga: Hari Pertama Berkantor Paska Pencarian Eril, Mata Ridwan Kamil Jadi Sorotan
Pada wilayah yang lebih sederhana, seperti di organisasi atau perusahaan, kemampuan untuk menyikapi perubahan atau melakukan perubahan secara sadar (awareness) diperlukan untuk memastikan bahwa perusahaan itu tetap bertumbuh.
Perubahan organisasi mempunyai tujuan agar organisasi itu tidak menjadi statis, melainkan dinamis dalam menghadapi perkembangan zaman.
Era Disrupsi
Era disrupsi adalah masa ketika terjadi perubahan yang sifatnya massif akibat adanya inovasi yang mengubah sistem atau tatanan ke arah yang baru. Organisasi atau perusahaan besar sekalipun akan gulung tikar jika tidak mempunyai strategi yang tepat untuk menghadapinya.
Pada era pandemi sekaligus disrupsi seperti saat ini, semua potensi dan kesempatan akan selalu ada bagi organisasi yang mau berubah dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Baca Juga: Jelajahi Potensi Pariwisata Bangka Belitung Sebagai Tajuk Kesejahteraan Masyarakat
Di wilayah organisasi, disrupsi dapat dibaca sebagai proses di mana perusahaan kecil dengan sumber daya yang lebih terbatas mampu bersaing dengan perusahaan yang jauh lebih mapan.
Drama gulung tikarnya perusahaan raksasa alat telekomunikasi asal Finlandia, Nokia bisa menjadi contoh yang paling sering diperbincangkan. Kala itu Nokia ngotot tetap menggunakan platform Symbian, padahal produsen lainnya telah beralih menggunakan android.
Kesombongan Nokia nampak dari keputusan mereka untuk fokus pada peningkatan produk dan layanan kepada pelanggan yang menguntungkan saja, serta enggan melihat potensi segmen lainnya.
Artikel Terkait
Siswa Berprestasi dapat Mengikuti Jalur SNMPTN 2022. Segera Siapkan Dokumen ini
Ini Jadwal dan Persyaratan Jalur UTBK SBMPTN 2022
Kabar Gembira, Jogja akan Terapkan Pembelajaran Tatap Muka 100 Persen
4 Jurusan Kuliah ini Prospek dan Gajinya Fantastis di Indonesia
SMK Pertanian Modayama Kembali Juarai Lomba Pramuka di Halsel
Menarik Penikmat Kuliner Masa Kini, Begini Caranya
Mengenal Merdeka Belajar Ala Ki Hadjar Dewantara
Kurikum Menjadi Barometer Pendidikan Anak
Jelajahi Potensi Pariwisata Bangka Belitung Sebagai Tajuk Kesejahteraan Masyarakat