*Artikel ini untuk memenuhi tugas UAS
Malutnetwork.com - Makan dan minum adalah dua hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia. Manusia wajib memerlukan makan dan minum untuk membentuk energi dan zat dalam tubuh.
Kebersihan makanan dan minuman harus dijaga baik di lingkungan rumah maupun di suatu restoran. Penikmat makanan harus memperhatikan dalam mengelola makanan agar makanan dan minuman dapat memberikan manfaat yang baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ini merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi kesehatan. Kesehatan diri sendiri dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai individu dan kebiasaan.
Baca Juga: SBY dan AHY Bertemu Surya Palo di Nasdem Tower, Benarkah Bahas Koalisi 2024
Kesehatan seseorang juga dapat dipengaruhi oleh hal-hal lain seperti kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan, dan persepsi terhadap kesehatan (Adams, 2003).
Kualitas makanan yang dihasilkan, disajikan, dan dijual oleh penjual makanan harus memenuhi syarat kesehatan seperti faktor lokasi dan bangunan, fasilitas, sanitasi, peralatan, pengolahan makanan yang baik, dan kebersihan penjamah makanan (Depkes RI, 2010).
Karena makanan dan minuman adalah kebutuhan pokok, bisnis kuliner akan terus menjanjikan. Pertumbuhan kuliner di Indonesia saat ini berkembang sangat pesat. Kuliner di Indonesia memiliki banyak keragaman dan cita rasa dari berbagai daerah.
Baca Juga: Setelah Dinyatakan Meninggal, Nabila Ishma Unggah Surat Cinta untuk Eril. Begini isinya
Masing-masing daerah memiliki keunikan tersendiri. Misalnya Jogja yang terkenal dengan gudeg, Palembang dengan pempek, Makassar dengan coto, dan Papua dengan papedanya. Selain makanan utama, juga terdapat jajanan khas masing-masing daerah tersebut.
Kekhasan ini bisa menjadi daya tarik karena cita rasa dan historisnya. Bahkan, kuliner juga bisa menjadi branding yang mengangkat nama suatu wilayah dan bahkan masuk menjadi salah satu sub sektor yang menyumbang ekonomi kreatif Indonesia.
“Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kuliner sebagai sub sektor penyumbang PDB terbesar dari ekonomi kreatif, rata-rata tiap tahun sekitar 43% dari total PDB ekonomi kreatif,” tulis Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam akun Instagram pribadinya, @smindrawati.
Baca Juga: Pelaku Penganiayaan Pemuda Dijalan Tol Berhasil Diringkus Polisi, Begini Kronologinya
Sebagai pelaku usaha kuliner, mereka harus konsekuen menjaga kualitas produknya. Harapannya, masyarakat tidak hanya membeli sekali, tapi kontinyu berulang-ulang. Kepuasan pelanggan sangat penting bagi keberhasilan usaha.